Sunday, April 7, 2013

Di Mana DIA di hati ini...


Apabila seseorang mencintai Allah, maka Allah akan mencintainya. Dan apabila seseorang dicintai Allah, maka hidup dan matinya akan dipermudahkan oleh Allah. Seluruh energi alam akan menyebelahinya. Di dalam hadis qudsi, Allah swt berfirman:


“Jika Allah mencintai seorang hamba maka Allah akan berkata, “Wahai Jibrail, Aku mencintai seorang hamba maka cintailah dia. Kemudian Jibrail memanggil penduduk langit dan berkata, “sesungguhnya Allah mencintai sifulan maka cintailah dia.” (musnad Imam Ahmad dari Abu Hurairah).

*******************************

Orang yang sedang mabuk bercinta.. bila mandi tak basah, tidur tak lena, makan tak kenyang, yang busuk terasa wangi, asyik teringat-ingat akan orang yang dicintainya. Begitulah umpama mabuk cinta Illahi, dia akan sentiasa mengingati Allah, munajat doa dijadikan pelerai rindu, segala musibah yang menimpa dirasakan terbaik untuknya, sangat tenang dan bahagia hatinya biarlah tiada dapat yang lain asalkan dapat cinta ALLAH.

Ya Allah, aku tahu aku belum mencintaiMu sepenuh hatiku sebab hatiku masih terpaut pada dunia, aku masih risau perihal rezekiku, aku masih risau kemana jalan masa depanku, aku masih bergantung harap pada manusia sedangkan hati manusia itu Engkau yang pegang, tambahkanlah keyakinan ku akan kebesaran Mu Ya Allah..

Sesungguhnya aku hanyalah seorang insan yang sedang bermujahadah agar ada DIA di hati ku. Aku belum sampai ke tahap mencintai-Nya tetapi aku yakin aku telah memulakan langkah untuk mencintai-Nya…”

Belum ada DIA di hati ku, hidup ku belum bahagia, belum tenang dan belum sejahtera. Aku akan terus mencari dengan langkah mujahadah ini. Aku yakin Allah itu dekat, pintu keampunan-Nya lebih luas daripada pintu kemurkaan-Nya. Selangkah aku mendekat, seribu langkah DIA merapat.



"Teruslah berusaha sedaya upaya untuk meraih cinta Allah.. Walaupun amat sukar tetapi itulah satu-satunya jalan ke arah keselamatan, ketenangan dan kebahagiaan. Sekalipun tidak sampai, tidak mengapa… asalkan kita telah menempuh jalannya. Allah sesungguhnya menilai apakah kita ‘sudah berjalan’.. bukan pada apakah kita ‘sudah sampai’". 


Jika ingin mati di jalan Allah..sibukkanlah diri di jalanNYA..



Analogi Lori Pasir Berlanggar....
Jika lori berisi pasir berlanggar, yang akan terkeluar dan berselerak ialah pasir. Sebaliknya jika lori sampah, sampahlah yang akan berterabur dan tersembur keluar.

Samalah seperti manusia. Manusia yang lidah, hati dan dirinya sentiasa dipenuhi dengan zikrullah, maka kalimah zikir itulah yang akan terluncur keluar bila tiba saat kematiannya. Sebaliknya jika perkara-perkara kotor yang ada dalam dirinya, maka perkara itulah yang akan tersembur keluar di saat kematiannya. Takkanlah lori sampah akan mengeluarkan pasir apabila berlanggar?  

Kata-kata Imam Al Ghazali - Cara mati kita ditentukan oleh cara hidup kita. 

Oleh itu tentulah hanya orang yang sering ke masjid terpilih untuk mati di masjid. Dan orang yang konsisten solat sahaja yang besar kemungkinan mati dalam keadaan bersolat. Namun adakah mati dalam keadaan baik atau sebaliknya itu lebih utama?

Yang lebih utama adalah... menentukan cara hidup yang baik. Siapa yang hidup cara baik akan mati baik. In shaa Allah


Friday, April 5, 2013

Surah Al-Hujuraat 49:6




Wahai orang-orang yang beriman! Jika datang kepada kamu seorang fasik membawa sesuatu berita, maka selidikilah (untuk menentukan) kebenarannya, supaya kamu tidak menimpakan sesuatu kaum dengan perkara yang tidak diingini dengan sebab kejahilan kamu (mengenainya) sehingga menjadikan kamu menyesali apa yang kamu telah lakukan.
(Al-Hujuraat 49:6) 

Asbabun Nuzul (Sebab-Sebab Turunnya Ayat al-Quran ini):
Imam Ahmad dan lain-lainnya mengetengahkan sebuah hadis dengan sanad yang Jayyid melalui Harits bin Dharar Al Khuza'i yang telah menceritakan, "Aku datang menghadap kepada Rasulullah saw. lalu beliau mengajakku masuk Islam, lalu aku menyatakan diri masuk Islam di hadapannya. Dan beliau menyeruku untuk mengeluarkan zakat, maka aku berikrar kepadanya akan mengeluarkan zakat, lalu aku berkata, 'Wahai Rasulullah! Bolehkah aku kembali kepada kaumku, aku akan ajak mereka masuk Islam dan menunaikan zakat. Maka barang siapa yang memperkenankan hal itu aku akan mengumpulkan harta zakatnya, lalu engkau mengirimkan utusanmu kepadaku dalam jangka waktu yang cukup supaya orang tersebut dapat membawa semua harta zakat yang telah aku kumpulkan kepadamu.'" 

Setelah Harits berhasil mengumpulkan harta zakat kaumnya, waktu yang telah dijanjikan telah tiba, ternyata Rasulullah saw tidak mengirimkan utusannya. Setelah ditunggu-tunggu ternyata tidak juga muncul, maka Harits menduga bahwa Rasulullah saw. marah terhadap dirinya; lalu ia mengumpulkan semua orang-orang kaya kaumnya, dan berkata kepada mereka, "Sesungguhnya Rasulullah saw dulu telah menentukan waktu untuk mengirimkan utusan kepadaku supaya mengambil zakat yang berhasil aku kumpulkan ini. Aku yakin bahwa Rasulullah tidak akan menyalahi janjinya, menurut dugaanku tiada yang menghalangi beliau untuk datang kepadaku melainkan beliau marah kepadaku. Maka sekarang marilah kita berangkat untuk menyerahkannya langsung kepada Rasulullah saw." 


Pada saat bersamaan Rasulullah saw mengirim Walid bin Uqbah untuk mengambil harta zakat yang ada pada Harits. Hanya saja ketika Walid sampai di tengah jalan, ia kembali lagi menghadap Rasulullah saw. dan melapor, "Sesungguhnya Harits menolak untuk membayarkan zakatnya kepadaku, bahkan dia hampir saja membunuhku." Maka Rasulullah saw kembali membentuk utusannya yang baru untuk dikirimkan kepada Harits. Tetapi ketika para utusan itu baru keluar dari Rasulullah, tiba-tiba datanglah Harits bersama dengan teman-temannya dan bertembung dengan para utusan itu. 


Lalu Harits bertanya kepada mereka, "Hendak ke manakah kalian diutus?" Mereka menjawab, "Kami diutus untuk menemuimu." Harits kembali bertanya, "Mengapa?" Mereka berkata, "Sesungguhnya Rasulullah saw telah mengutus kepadamu Walid bin Uqbah, lalu ia melaporkan bahwa kamu tidak mau membayar zakat kepadanya dan bahkan kamu hendak membunuhnya." Harits berkata, "Tidak, demi Allah yang telah mengutus Muhammad dengan membawa perkara yang hak, aku tidak pernah melihatnya dan belum pernah pula aku kedatangan dia." Ketika Harits datang menghadap Rasulullah saw. lalu Rasulullah saw. berkata kepadanya, "Kamu tidak mahu membayar zakat, dan bahkan kamu bermaksud untuk membunuh utusanku." Harits menjawab, "Tidak, demi Tuhan yang telah mengutusmu dengan membawa perkara yang hak." Maka turunlah ayat tersebut untuk membenarkan pengakuan al-Harits.


Walaupun hadis di atas membicarakan sikap al-Walid yang menyebarkan berita palsu, tetapi hukumnya umum dan berlarutan sehingga ke hari akhirat. Kaedah tafsir menetapkan pengajaran dan iktibar itu diambil kira berdasarkan lafaz umum bukan sebab khusus.

Kisah ini memberi peringatan dan panduan kepada kita adab atau etika apabila menerima sesuatu maklumat yang tidak dapat dipastikan kesahihannya. Sikap tergopoh-gapah menerima sebarang berita disampaikan boleh mendatangkan penganiayaan kepada orang lain.

KOMUNIKASI dan penyebaran maklumat disebar pantas secara maya (virtual) melalui internet. Penciptaan alat komunikasi ini mempunyai banyak faedah jika digunakan dengan baik.

Pengguna perlu berdisiplin, mengikut peraturan dan bertanggungjawab supaya kemajuan itu tidak disalahgunakan terutama menyebarkan perkara tidak benar. Segala berita yang disebarkan, hendaklah diselidik terlebih dulu. Untuk menilai kesahihan sesuatu berita yang disebarkan, al-Quran sudah ada garis panduannya. 

Allah sudah memberi peringatan dan mengajar semua umat Islam supaya meneliti serta menyelidik terlebih dulu berita disampaikan kepada mereka. Jangan tergesa-gesa mempercayai sesuatu berita dan jangan terlalu cepat menafikannya sebelum membuat penelitian terhadap kebenarannya.

Takut jika terlalu tergesa-gesa membuat keputusan berdasarkan berita disebarkan, menyebabkan orang yang diberitakan itu mendapat hukuman, padahal ia tidak melakukan kesalahan pun. Dalam hal ini jelas berlaku penganiayaan dan kezaliman.

Umat Islam seharusnya berhati-hati menerima berita yang disebarkan. Namun, masih ada segelintir umat Islam yang mudah menerima tanpa memastikan kebenarannya. 

Selain itu, umat Islam juga seharusnya berfikir dengan rasional manfaat dan kemudaratan hasil tindakan yang akan dilakukan. Islam itu benar. Sampaikanlah kebenaran. Setiap tindakan akan mencerminkan keperibadian seseorang muslim itu sendiri


Saturday, March 16, 2013

KESULITAN DALAM BERMUJAHADAH




Dalam hidup ini, manusia akan berhadapan dengan dua perkara:

Pertama, perkara yang PERLU dilakukan.
Kedua, perkara yang SUKA dilakukan.

Dan sudah menjadi sunnatullah, KEDUA-DUA perkara itu SALING bertindak BERTENTANGAN. Biasanya perkara yang PERLU kita lakukan adalah perkara yang TIDAK SUKA kita lakukan. Dan perkara yang kita SUKA lakukan adalah perkara yang TIDAK PERLU kita lakukan. Renung-renungkanlah...

Contohnya, solat subuh. Bila hampir masuknya waktu subuh, perkara yang perlu kita lakukan ialah bingkas bangun, membersihkan diri, bersuci dan terus berwuduk. Itulah antara perkara-perkara yang perlu kita lakukan. Namun, apakah perkara yang kita suka lakukan?

Ya, diikutkan rasa, kita suka untuk terus tidur dan bersenang-senang. Subuh itu sejuk, gelap, nyaman… waktu yang paling enak untuk menyambung tidur. Bangun subuh ialah perkara yang perlu, manakala terus tidur ialah perkara yang kita suka buat.

Yang mana satu lebih baik? 
Tentulah solat itu lebih baik daripada tidur. 
Tapi apa yang NAFSU inginkan? 
Jawabnya, tidur!

Jadi lawanlah nafsu....dan bingkas bangun.

Untuk melakukan perkara yang perlu dibuat walaupun kita tidak suka membuatnya, menagih ketabahan, keberanian dan istiqamah [konsisten].

Untuk berjaya, mujahadah itu perlu. BerMUJAHADAH ertinya 'BERPERANG' dengan diri sendiri untuk melakukan sesuatu yang sangat dibenci oleh HAWA NASU. Hawa nafsu yang hanya inginkan kejahatan, kelalaian dan keseronokan. Sebaliknya, ia sangat bencikan kebaikan, peringatan dan ketaatan. Menentang hawa nafsu, samalah dengan menentang diri sendiri. Terseksa. Ini yang menyebabkan satu mujahadah selalu patah. Atau belum pun bermujahadah sudah mengaku kalah. Terlalu sayangkan diri untuk “disakiti”

Manusia berasa terlalu sulit, payah dan susah dalam bermujahadah di jalan Allah. Namun, ingatlah mujahadah itu pahit, kerana syurga itu manis.“Syurga dipagari dengan kesusahan, manakala Neraka dipagari oleh keseronokan.”

Sesungguhnya, jalan mujahadah itu adalah jalan kita. Di jalan itu, sering berlaku dialog dalam diri. Apabila susah melanda, kita merintih. Apabila godaan mendatang, kita cuba bertahan. Apabila nikmat menjelma, kita lega tetapi tidak lama, sukar pun datang mencabar, kita cuba sabar. Ingat selalu, untuk berjaya dalam hidup, kita mesti lakukan perkara yang PERLU kita buat walaupun kita tak suka. Tidak ada pilihan, Tidak ada jalan pintas, tidak ada jalan singkat. Tidak ada keajaiban melainkan PERLU MENEMPUH jalan susah.PAKSA DIRI untuk melakukannya! Lawan godaan dan ransangan yang menggamit hati kita untuk melakukan perkara yang suka dilakukan. Lakukanlah perubahan dalam diri. Ingatlah, untuk mendapat ubat, orang boleh beri ubat.. tetapi untuk merasai kepahitan dan kemujaraban ubat, kita kenalah merasainya sendiri..

http://genta-rasa.com/2011/07/04/mahar-sebuah-syurga/


Sunday, January 6, 2013

Dunia ini adalah tempat persinggahan untuk menuju akhirat

"Ya Allah, ilhamkanlah kami untuk menjadikan dunia ini sebagai ALAT untuk mencapai MATLAMAT iaitu AKHIRAT agar kami dapat berkumpul di JannahMU" 



"Barangiapa yang menjadikan dunia sebagai tujuannya maka Allah akan mencerai beraikan urusannya, dan menjadikan kefakiran di pelupuk matanya, dan dunia tidak akan datang kepadanya melainkan apa yang telah ditetapkan baginya. Dan barangsiapa yang akhirat menjadi tujuannya maka Allah akan menyatukan urusannya, dan menjadikan berkecukupan di hatinya, dan dunia akan mendatanginya dalam keadaan tunduk.” (Diriwayatkan oleh Ibnu Majah, no. 3313 dan dishahihkan oleh Al-Albani dalam Silsilah Ahadits Shohiihah, no. 950)


Ketahuilah bahawa (yang dikatakan) kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah (bawaan hidup yang berupa semata-mata) permainan dan hiburan (yang melalaikan) serta perhiasan (yang mengurang), juga (bawaan hidup yang bertujuan) bermegah-megah di antara kamu (dengan kelebihan, kekuatan, dan bangsa keturunan) serta berlumba-lumba membanyakkan harta benda dan anak pinak; (semuanya itu terhad waktunya) samalah seperti hujan yang (menumbuhkan tanaman yang menghijau subur) menjadikan penanamnya suka dan tertarik hati kepada kesuburannya, kemudian tanaman itu bergerak segar (ke suatu masa yang tertentu), selepas itu engkau melihatnya berupa kuning; akhirnya ia menjadi hancur bersepai; dan (hendaklah diketahui lagi, bahawa) di akhirat ada azab yang berat (di sediakan bagi golongan yang hanya mengutamakan kehidupan dunia itu), dan (ada pula) keampunan besar serta keredaan dari Allah (disediakan bagi orang-orang yang mengutamakan akhirat). Dan (ingatlah, bahawa) kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan bagi orang-orang yang terpedaya.
(Al-Hadiid 57:20)


Dan Kami jadikan (sifat tamak dan gila mereka kepada harta benda dan pangkat itu sebagai) sekatan (yang menghalang mereka daripada memandang kepada keburukan dan kesingkatan masa dunia yang ada) di hadapan mereka, dan sekatan (yang menghalang mereka daripada memikirkan azab yang ada) di belakang mereka (pada hari kiamat). lalu Kami tutup pandangan mereka; maka dengan itu, mereka tidak dapat melihat (jalan yang benar).
(Yaa Siin 36:9)


"Wahai kaumku! Sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah kesenangan (untuk sementara waktu sahaja), dan sesungguhnya hari akhirat itulah sahaja negeri yang kekal.
(Ghaafir 40:39)



Monday, November 26, 2012

Saat diuji dengan kehilangan


Belajar sedikit demi sedikit untuk menerima kehilangannya.  YANG PERGI HANYALAH JASAD, TETAPI , CINTA DAN KASIH SAYANGNYA TETAP ADA DIHATI, TEGUHKAN SEMANGAT, KUATKAN TEKAD. Kita yang masih hidup perlu menyambung perjuangannya. Tidak mengapa bersedihlah seketika. Itu fitrah jiwa. Namun sederhanalah kerana esok kau mesti bangkit semula.

Tanyakan pada hati mu yang sebati dengan hatinya, apa yang dia inginkan jika dia masih di sisi? Renung wajah anak-anak... mereka punya masa depan. Di tangan mu kini segala cita-cita dan harapan. Jangan sampai nestapa ini menjadi halangan. Apakah kau tega mengecewakan?

Katakan pada diri, akan ku galas amanah ini. Sekiranya terpaksa bertongkat dagu pun,  aku  tidak akan lemas dipagut sendu. Berjuanglah, agar dia bisa senyum di Barzakh itu. Maka, akan terasalah keindahan cinta sejati. Dulu kita bertemu dengannya untuk berpisah, Kini kita berpisah dengannya untuk bertemu. Harinya pasti tiba. Mohon padaNYA agar dapat bertemu semula menyambung cinta hingga ke syurga.

Buat masa ini sibukkanlah diri mu. BERIBADAHLAH SEHINGGA KAU LETIH UNTUK MERASA SEDIH. Gembirakanlah hati mu. Carilah ilmu dan peluang kebaikan yang banyak bertaburan. Bila sesekali kesedihan datang tanpa diundang, berwuduk dan bacalah Al Quran. Dirikanlah solat, sesungguhnya solat itu satu kerehatan.

Sentiasa bisikkan ke dalam hati mu yang paling dalam. Dia bukan milik ku. Dan aku pun bukan miliknya. Pemilik segala ialah Al Malik. DIAlah yang memiliki dan menguasai segala-galanya. KITA CUMA HAMBA, PADA KITA CUMA TADBIR, PADANYA SEGALA TAKDIR Pada kita hanya amanah, sampai masanya terpaksa diserah.   Jangan ada rasa dimiliki, dan jangan ada rasa memiliki. Bila terasa sepi, jangan katakan aku sepi… tapi katakan.. pada ku sentiasa ada PEMERHATI.

Bila ujian semakin menghimpit diri, pejamkan matamu dan kenangkanlah hidup kekasih Allah, Rasulullah saw. Bukankah baginda telah dididik oleh mehnah paling getir yang bernama kematian? Bukankah ayahnya Abdullah pergi dulu sebelum sempat baginda dilahirkan? Ibunya Aminah menyusul beberapa tahun kemudian. Tidak sempat bermanja lama dengan datuknya Abdul Mutalib, datuknya pula meninggalkannya. Lalu baginda yang yatim lagi piatu itu dipelihara oleh bapa saudaranya Abu Talib.

Kenangkan zaman kanak-kanak Rasulullah, tanpa ibu-bapa tetapi telah tega menjadi gembala kambing. Padang pasir dan angin kering menjadi sahabatnya. Lukisan alam itulah yang melakarkan jiwa suci dan akal tajamnya hingga mencari-cari makna kehidupan. 

Sejak baginda berkahwin dengan Khadijah, itulah srikandi sejati cintanya. Yang membawa bekal makanan ke gua Hira’. Yang menyelimuti tubuh dinginnya apabila digegar wahyu pertama. Yang memberikan jiwa dan harta untuk dia berdakwah, berjuang apabila digesa oleh surah Mudasthir (orang berselimut) – qum faanzir – bangun dan serulah!  Itulah Khadijah kekasih Rasulullah, insan terhampir ketika semuanya meminggir.

Namun tidak lama, di tahun dukacita itu… Khadijah pergi buat selama-lamanya. Baginda kehilangan dorongan – pada jiwa dan harta. Khadijah tiada lagi.  Pergi ketika kasih dan cintanya masih didambakan. Sudah hilang bisikan yang memberikannya semangat, kasih sayang, pembelaan dan kemesraan. Baginda berdukacita… Namun, selang hanya beberapa bulan satu kehilangan berlaku lagi. Abu Talib pula  pergi. 

Tidak cukup dengan itu, ketika Islam sudah bertapak di Madinah. Seorang ayah bernama Rasulullah, kehilangan  pula puteri-puteri kesayangannya Zainab, Ruqayyah dan Umi Khalsum… SUBHANALLAH, TABAHNYA HATIMU YA RASULULLAH. KEMATIAN DEMI KEMATIAN, TETAPI KAU TERUS HIDUP DENGAN HATI YANG BERJUANG. Seolah-olah kematian yang menyedihkan itu menjadi obor perjuanganmu menerangi hati umat yang mati ini!  

Untuk apa semua ini dilakukan oleh Allah yang Maha Kasih kepada kekasihNya Muhammad? Ya, JANGAN BERGANTUNG KEPADA SELAIN-NYA Hanya bergantung kepada-Nya. LALU JIKA KINI KITA SEDANG DIUJI DENGAN KEMATIAN, KENANGKANLAH HIDUP KEKASIH ALLAH, RASULULLAH  s.a.w. Hayatilah dan mengambil ibrah dari setiap episod kematian yang telah dilaluinya, agar terubat kesedihan di hati.

Memberi nasihat memang mudah, tapi melaluinya bisa mendatangkan lelah. Teruskanlah bermujahadah, tak mengapa jika kalah...tapi jangan pernah menyerah.